Beranda FYI Pengalaman: Suka Duka Menggunakan VPS

Pengalaman: Suka Duka Menggunakan VPS

2
pengalaman menggunakan vps

Halo temen-temen, pada kesempatan kali ini saya tidak berbagi tutorial yaa melainkan akan berbagi pengalaman. Biar ga bosen, masa tutorial mulu wehehee.

Jadi pengalaman yang akan saya bagikan kali ini adalah terkait kepindahan hosting saya, yang semula menggunakan shared hosting beralih menggunakan VPS. Nah, buat temen-temen yang berencana ingin pindah dari shared hosting ke VPS, pastikan membaca artikel ini ya, agar nantinya tidak kaget. 😄

FYI aja nih temen-temen, tanggal 13 Desember besok itu tepat sebulan saya menggunakan VPS sebagai hosting blog muhammadroyyan.com. Jadi jangan ditanya, yang pasti saya sudah merasakan suka duka menggunakan VPS, meskipun saat ini belum genap sebulan. VPS yang saya gunakan adalah VPS dari Google Cloud Platform yang saya dapatkan gratis dari Google. Bagi pembaca setia blog ini pasti sudah tau kan bagaimana cara saya mendapatkannya hehe. Yaaa meskipun gratis namun jangan ditanya ketangguhannya.

Baca juga: Pengalaman: Dapet Free Trial Google Cloud Platform Senilai 300$

Oke terlepas dari itu semua, bagi seorang pemula menggunakan VPS itu ibarat makan buah semangka. Awalnya jika dilihat hanya bulat, polos, keras lagi. Tanpa pisau, kita tidak bisa membuka kulitnya, gabisa dimakan. Sama seperti belajar VPS. Saya yakin seseorang yang baru pertama kali menghadapi terminal VPS akan kebingungan, mau diapakan VPS tersebut. Hitam, kosong. Mau ngetik tapi bingung ngetik apa 😀

Namun dengan adanya pisau, kamu dapat membelah kulitnya dan merasakan nikmat buahnya. Sama, ketika kamu paham basic dari server, saya yakin kamu akan mendapatkan keseruan didalamnya. Kamu akan merasakan bahwa bermain-main dengan server itu menyenangkan.

Jadi apasih pisaunya? Tidak lain dan tidak bukan, yaitu Googling 😀

Awal Mula Menggunakan VPS

Hari pertama, sudah pasti melongo. Hal ini benar-benar sesuatu yang baru bagi saya. Seakan-akan apa yang saya pelajari di shared hosting tidak bisa diaplikasikan disini. Ini mau diapain juga bingung 😀

Lanjut hari kedua, saya isi dengan mengeksplore seluruh fitur yang ada pada dashboard Google Cloud Platform. Tutorial pertama yang saya cari adalah Cara menginstall WordPress di Google Cloud Platform. Mudah saja, hanya menjalankan launcher di dashboard GCP ini, kita bisa menginstall WordPress dengan beberapa kali klik. Dan benar saja WordPress berjalan secara smooth dan fast.

Namun ketika saya cek, menggunakan launcher ternyata memakan biaya yang cukup mahal. Bisa mencapai $40 sebulan. Jika dihitung-hitung, trial saya pun tidak akan cukup jika digunakan untuk setahun. Untungnya saya memiliki teman di FB, opsi pertama ia menyarankan untuk menginstall LEMP secara manual untuk menjalankan WordPress. Untuk yang belum tau, LEMP ini terdiri dari Linux, Nginx, MySQL dan PHP. Install manual disini berarti saya harus mengetikkan command-command di jendela terminal shell. Repot asli. Bahkan saya juga tidak mengerti fungsi tiap command yang ada di Google. -_-

Lalu saya mencoba opsi yang kedua, yaitu menggunakan panel. Ada banyak panel yang bisa digunakan untuk memanage VPS. Seperti cPanel, Webuzo, Webmin, VestaCP, ServerPilot, dan lain sebagainya. Saya sudah mencoba semuanya dan yang berjalan normal plus gratis di server GCP adalah ServerPilot. Keuntungan lainnya yaitu instalasi WordPress yang sangat mudah ditambah tampilan yang user friendly menjadikan ServerPilot ini panel yang paling saya rekomendasikan untuk para pemula di bidang VPS.

Suka Duka Menggunakan VPS

Saya mulai dari dukanya dulu deh, beberapa hari berjalan setelah saya migrasi dari shared hosting. Semua berjalan normal hingga suatu ketika saya ingin memasang SSL let’s encrypt pada salah satu sub domain saya. Entah saya yang salah command atau gimana, yang jelas saya gagal melakukan instalasi. Saya kira tidak akan berdampak apa-apa. Namun saya salah, ternyata seluruh blog yang ada dalam satu server tidak bisa diakses seluruhnya. Dan pada saat itu posisi saya belum melakukan backup selama seminggu 😂. Kira-kira sudah ada belasan artikel dan draft yang belum tersimpan. Namun alhamdulillah SFTP masih bisa berjalan dengan normal. Dengan export database secara manual. Export folder wp-content/uploads juga masih sempat. Bingung? Wah sudah pasti yaa. Dengan modal Googling dan tanya-tanya akhirnya blog ini masih bisa diselamatkan. Meskipun masih sedikit trauma untuk install SSL lagi hehee. Dari situ saya jadikan pengalaman, untuk melakukan backup yang semula seminggu sekali menjadi sehari sekali (karena saya update artikel harian).

Baca juga: Cara Mudah Back Up dan Restore WordPress Menggunakan Updraftplus

Kira-kira itu saja duka yang pernah saya alami setelah menggunakan VPS. Lalu apa saja suka yang didapat dari VPS ini?

Wah kalo sukanya banyak banget. Tapi yang saya paling seneng ketika melakukan backup rutin. Pengalaman ketika saya menggunakan shared hosting, untuk menjalankan satu kali backup itu butuh waktu lama banget. Mungkin ada sejam 😂 gatau saking lemotnya kali hostingnya. Berbeda dengan VPS, proses backup cepet ga sampai 5 menit (mungkin karena 1 server diisi 2 blog aja kali yaa). Selain itu saya juga sudah tidak pernah menemui problem error database connection seperti waktu menggunakan shared. Dan yang terakhir, kalau saya lihat-lihat grafik visitor mulai menanjak ketika saya menggunakan VPS. Memang benar kali ya, kecepatan server sangat berpengaruh dalam meningkatkan visitor. Selain itu masih banyak keuntungan lainnya yang saya dapatkan ketika beralih menggunakan VPS. Yaaa sebanding lah apa yang didapat dengan sulitnya memanage VPS ini.

Mungkin itu saja pengalaman yang bisa saya bagi kali ini. Kedepannya akan saya post mengenai dasar-dasar menginstall WordPress menggunakan VPS. Jadi jangan sampai ketinggalan ya, pantengin terus blog muhammadroyyan.com. Sekian dan semoga bermanfaat.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here